Catatan Akhir Amanah #2

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh.

"Teruslah berkontribusi dan memberikan kebermanfaatan bagi lingkunganmu selagi kau mampu"

(Foto saat sarasehan Forum Bersama Mahasiswa Fisika Jogja-Solo yang bertempat di Kampus UNS)


Pada sebuah kelompok "Little Family of Physics 2014" , 7 mahasiswa fisika ngobrol-ngobrol bareng di suatu tempat di Fakultas MIPA UGM. Bahan obrolan saat itu terkait TOP COP 2017.

A :Nis, kamu pasti ditujuk jadi sekretaris lagi.
N : Hmmm, tapi aku mau nolak kalau pun ditunjuk. Bosen ngurusin kertas-kertas dan database terus. hehehe

T : Halah, mana berani kau nolak Nis.
N : Berani ko
T : Lihat saja , nanti pasti kau luluh kalau dibujuk. Biasanya juga gitu.
N : Kali ini aku mau tegas nolak.
T : Lihat saja nanti :D
Dan masih banyak percakapan lainnya.

Dannn 3 bulan setelah percakapan itu, perkataan temenku terbukti aku pun luluh dan mau menjadi sekretaris TOP COP. Hmmmm awalnya nolak tapi pas dibujuk terus menerus ngga enak nolak apalagi 4 temen yang saya rekomendasikan mampu menjadi sekretaris menolak. Alhasil akhirnya menerima. Bismillah. 

Saat selesai amanah sekretaris KFgama, waktu itu saya berpikiran cukup sampe sini saja kegiatan organisatoris saya. Untuk semester 6 ke depan  menjadi mahsiswi Kupu-Kupu saja, kuliah pulang kuliah pulang, tidak ada yang namanya rapatditengah-tengah jam kuliah atau setelah pulang kuliah. Namun niat saya waktu itu tampaknya belum di ridhai Allah, Qodarullah saya diamanahi menjadi sekretaris kembali. Alasan saya menolak menjadi sekretaris TOP COP karena saya pun sudah menjadi sekretaris kembali setelah lengser dari KFgama yaitu menjadi sekretaris Tim KKN. Namun, semoga pilihan ku waktu itu tidak salah, waktu itu kembali terpikir "selagi masih bisa berkontribusi mengapa ngga". Dan aku selalu yakin pasti bakal ada pelajaran hidup yang akan saya peroleh.

Mendapat amanah ini tentu mengajri saya management waktu. Bulan Februari-Maret saya sedikit disibukkan dengan birokrasi KKN dan TOP COP, biasa seperti proposal dan surat menyurat. Waktu itu saya aga berat membuat Proposal KKN, karena jujur ngga bisa main-main harus benar-benar apa rancangan kegiatan yang mau dilakukan di tempat KKN, dan juga penulisannya ada aturannya ngga sembarangan. Dari situ kembali belajar yang namanya ketelatenan. Untuk propsal TOP COP saya kerjakan setelah yang KKN selesai, alhamdulillah proposal dan persuratan TOP COP tidak ada kendala berarti karena di tahun sebelumnya sudah ada pengalam menjadi sekretaris di even ini juga. Untuk cerita-cerita menjadi sekretaris sama saja seperti dicerita sebelumnya.

Ditulisan ini saya ingin sedikit berbagi pengalaman dan pelajaran selama saya terjun menjadi seorang organisatoris, namun sebenarnya dibanding temen-temen aktivis lainnya saya hanya butiran debu yang kontribusinya masih minim.

Sejujurnya dulu saat MTs dan MA saya sangat menghindari berkecimpung terlalu dalam kegiatan aktivitas organisasi. saya memilih menjadi anggota organisasi yang biasa-biasa saja, karena saya pikir dulu, bahwasannya sekolah itu yaa untuk akademis (padahal akademisnya juga biasa-biasa saja wkwkwk). Anggota biasa, ngga prestatif, dan kayanya ngga diingat orang juga, hihi. Menjadi sesorang yang produktif, terutama dalam hal membantu masyarakat dan bukan hanya diri sendiri, itu sangat jauh dari bayangan saya.

Titik balik itu akhirnya muncul saat saya semester I perkuliahan yaitu di tahun 2014. Saat menjadi mahasiswa baru banyak motivasi datang dari para aktivis yang prestatif. Dari situ saya berfikir bahwasannya menjadi seorang aktivis masih bisa berprestasi dan malah aktif di organisasi menjadi jembatan mereka menjalin relasi untuk lebih berprestasi dan kontributif. Saat itu juga saya melihat temen-temenku yang lain. Mereka sudah pernah ikut pertukaran pelajar, publiv speakingnya oke banget, bisa nulis di majalah sekolah bahkan buku. Mereka mampu membuat perubahan.

Dari situlah, saya mulai menyadari betapa pentingnya untuk berada "di luar zona nyaman". Pentingnya untuk "berada di bawah tekanan". dan pentingnya "Tumbuh dan Berkembang". Dan akhirnya saya mulai paham : "Diamonds are made under pressure".  Berlian hanya akan muncul sebagai hasil akhir dari proses yang bertekanan tinggi. Saya menyadi produktif itu bukan pilihan. Produktif itu kebutuhan untuk kita tumbuh dan berkembang.

Di bangku kuliah, saya pun akhirnya nyemplung di beberapa organisasi,pada awalnya masih menjadi anggota pasif. Dan atas izin Allah mulai semester 3 saya memegang beberapa amanah di organisasi tersebut. Yang saya sangat syukuri adalah saya berada diantara kawan/kaka tingkat yang hebat di bidangnya, tetapi sangan humble. Jadi, berada didekat mereka , saya pun tidak terintimidasi. malah saya jadi terpicu untuk terus belajar. Jangan lupa juga semoga kita bisa menanamkan "Ilmu Padi" dalam hati kita. Ketika semakin berisi semakin merunduk.

Semoga suatu saat nanti saya bisa menghasilkan karya yang bermafaat. Aamiin....

Bimillah semoga kita kedepannya bisa menjadi insan yang produktif bagi diri sendiri dan sekitarnya, Aamiin Allahumma Aamiin....

Yogyakarta, 26 Desember 2017
Pukul 06.35 WIB


NF


Komentar